Sunday, February 17, 2008

Contoh Makalah (Praktikum Virologi Tumbuhan)

Ini adalah salah satu contoh makalah sebagai bahan acuan dalam pembuatan tugas makalah praktikum virologi tumbuhan. Perlu diperhatikan kepada pratkian , ini hanya contoh makalah dan untuk isi disesuaikan dengan tema/topik yang telah ditentukan untuk masing-masing kelompok.


Contoh makalah:

OPTIMALISASI PEMANFAATAN NOVEL TECHNOLOGIES DALAM MENDUKUNG SISTEM PERLINDUNGAN TANAMAN MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN [1]

Oleh Kasumbogo Untung [2]

PENDAHULUAN


Program pembangunan pertanian terutama bidang kecukupan dan ketahanan pangan yang telah lama dilaksanakan di Indonesia sampai sekarang masih sangat memprihatinkan. Kondisi pertanian pangan di Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitas ternyata belum mampu mencukupi kebutuhan pangan sendiri bahkan akhir-akhir ini kita cenderung semakin tergantung pada impor produk pangan dari luar negeri. Hasil yang diperoleh dari kinerja ekspor produk-produk pertanian juga dinilai belum menggembirakan. Laju peningkatan impor produk-produk pertanian cenderung lebih besar daripada laju peningkatan ekspor sehingga semakin menyulitkan posisi Indonesia dalam era pasar global yang penuh dengan persaingan.


Kemajuan dalam bidang perlindungan tanaman juga belum banyak terjadi. Serangan hama, penyakit dan gulma masih tetap menjadi faktor pembatas penting dalam program peningkatan produksi pertanian. Berbagai jenis hama dan penyakit tumbuhan baik yang “lama” maupun yang “baru“ belum dapat dikendalikan dengan mantap. Hama dan penyakit yang “lama” seperti tikus sawah, penggerek buah kakao, penyakit CVPD pada jeruk, penyakit pisang, dan yang lainnya masih tetap menyerang pertanaman. Sedangkan hama dan penyakit tumbuhan “baru” banyak bermunculan seperti hama pengorok daun kentang Liriomyza sp., penyakit bule kuning pada cabe dan lain-lainnya. Meskipun PHT telah diangkat sebagai kebijakan nasional perlindungan tanaman, namun ketergantungan petani terhadap pestisida masih tinggi.


Untuk mencapai sasaran program pembangunan pertanian dan perlindungan tanaman, Pemerintah tetap mengutamakan pendekatan teknologi. Paradigma pembangunan berbasis teknologi sangat percaya bahwa segala masalah yang dihadapi oleh masyarakat selalu dapat diselesaikan melalui penerapan teknologi yang tepat. Paradigma tersebut mendorong masyarakat ilmiah untuk menemukan dan mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Dengan demikian diharapkan bangsa kita dapat memenuhi kebutuhan sendiri serta mampu menghasilkan devisa dari kegiatan ekspor dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi. Teknologi pertanian diharapkan sesuai dengan perkembangan masyarakat sekarang diantaranya harus memiliki tingkat produksi tinggi, kualitas produk sesuai dengan permintaan konsumen, dan proses teknologinya aman bagi kesehatan serta bersahabat dengan lingkungan.


Teknologi pertanian konvensional dan tradisional apabila digunakan secara unilateral semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat yang terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Pemerintah dan masyarakat saat ini cenderung meletakkan harapan pada pengembangan dan penerapan teknologi-teknologi baru atau novel technologies yang lebih unggul dan menjanjikan daripada teknologi konvensional sebelumnya. Akhir-akhir ini kemajuan ilmu pengetahuan modern dalam bidang ilmu-ilmu dasar seperti biokimia, biologi molekuler dan bioteknologi semakin membuka peluang dan harapan ditemukannya teknologi yang lebih baru dan lebih hebat dibandingkan teknologi lama. Para pejabat mengharapkan bahwa dengan penerapan teknologi baru secara meluas dan merata oleh petani, berbagai masalah ketahanan dan keamanan pangan serta pertumbuhan ekonomi nasional dapat terselesaikan.


Namun perlu diingat bahwa penerapan dan penggunaan setiap jenis teknologi termasuk teknologi novel tentu mengandung risiko. Di samping manfaat yang diperoleh, risiko atau bahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup pasti akan dijumpai. Selain itu perlu diperhatikan dampak penerapan teknologi baru terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya setempat. Sebelum suatu jenis teknologi diterapkan secara luas terlebih dahulu harus dilakukan analisis atau penilaian mengenai risiko dan manfaat secara menyeluruh. Penilaian risiko tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga risiko jangka panjang. Apabila dari hasil analisis risiko ditemukan bahwa biaya lebih besar daripada manfaat yang diperoleh, teknologi tersebut seharusnya tidak digunakan. Namun jika manfaat yang diperoleh lebih besar daripada risiko teknologi tersebut maka teknologi baru layak digunakan secara luas.


Dengan menggunakan pola landasan berpikir Pertanian Berkelanjutan dan Pengendalian Hama Terpadu, makalah ini secara umum membahas beberapa prospek dan risiko pengembangan dan penggunaan teknologi novel dalam bidang perlindungan tanaman serta beberapa saran kebijakan pemanfaatan teknologi tersebut.


PERTANIAN BERKELANJUTAN


Masa depan kehidupan di muka bumi sangat ditentukan oleh kegiatan dan cara umat manusia memanfaatkan sumber daya alam yang terbatas secara hemat dan bijaksana. Daya dukung dan daya tampung lingkungan di beberapa negara/ region/lokasi telah terlampaui oleh berbagai kegiatan pembangunan yang dilakukan manusia guna peningkatan kesejahteraan. Apabila kegiatan manusia dalam menguras dan merusak sumber daya alam tidak terkendali maka dunia diperkirakan akan mengalami bencana ekologi yang mengerikan pada tahun 2100.


Semua negara di dunia telah sepakat dan bertekad untuk menerapkan serta mengembangkan konsep pembangunan pertanian berwawasan lingkungan. Kegiatan pembangunan harus memperhitungkan kemampuan dan daya dukung lingkungan baik di tingkat lokal, daerah, nasional, regional maupun global. Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan dalam bidang pertanian disebut Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Menurut batasan FAO (1989), pertanian berkelanjutan merupakan “pengelolaan konservasi Sumber Daya Alam dan orientasi perubahan teknologi dan kelembagaan yang dilakukan sedemikian rupa untuk menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang”. Definisi pertanian berkelanjutan yang lebih sering digunakan adalah “Setiap prinsip, metode, praktek, dan falsafah yang bertujuan agar pertanian layak ekonomi, berkeadilan, secara ekologi dapat dipertanggungjawabkan, secara sosial dan budaya dapat diterima, serta berdasarkan pendekatan holistik. Dari pengertian tersebut maka pembangunan pertanian tidak hanya mencakup aspek teknologi dan ekonomi saja, namun bersifat menyeluruh atau holistik yang meliputi aspek ekologi, sosial, budaya, bahkan sampai masalah hak azasi manusia (HAM).


Pertanian berkelanjutan harus diterapkan karena daya dukung lingkungan pertanian mulai berkurang sehingga diperkirakan tidak mampu lagi menjamin kesinambungan akan keberlanjutan pelaksanaan program pembangunan di masa mendatang. Salah satu gejala penurunan daya dukung lingkungan adalah semakin tidak efisiensinya penggunaan masukan produksi untuk memperoleh satuan peningkatan hasil yang sama jika dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya, sehingga berdampak terhadap lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, kesehatan masyarakat, dan pemerataan kesejahteraan sosial. Dampak tersebut sangat mempengaruhi penurunan produktivitas pertanian dan keberlanjutan program pembangunan.

Beberapa ciri atau sifat pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan yaitu:

  1. Mampu mendukung kehidupan masyarakat pedesaan dengan meningkatkan kesempatan kerja dan kehidupan yang layak bagi petani.Â
  2. Mampu meningkatkan kemandirian petani secara berkelompok dalam mengambil keputusan pengelolaan eksosistem pertanian secara berkelanjutan.Â
  3. Mampu meningkatkan produksi pertanian dan menjamin keamanan pangan di dalam negeri.Â
  4. Mampu menghasilkan pangan yang dapat terbeli oleh konsumen dengan kualitas nutrisi tinggi serta bebas dari bahan-bahan berbahaya.Â
  5. Tidak membahayakan kesehatan petani dan konsumen produk pertanian akibat penggunaan racun kimiawi yang berbahaya.Â
  6. Tidak mengurangi dan merusak kesuburan tanah dan tidak meningkatkan erosi.Â
  7. Meminimalkan ketergantungan pada sumber daya alam yang tak terbaharukan.Â
  8. Melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di lahan pertanian dan pedesaan termasuk terhadap sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.



KEBIJAKAN PERLINDUNGAN TANAMAN NASIONAL


Sebagai bagian dari sistem pengelolaan ekosistem berkelanjutan secara global telah disepakati bahwa Pengendalian Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management merupakan komponen integral dari Sistem Pertanian Berkelanjutan. Menurut UU No. 12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman dan PP No. 5/1996 tentang Perlindungan Tanaman, PHT merupakan kebijakan nasional perlindungan tanaman di Indonesia. Dilihat dari aspek teknologi, PHT merupakan perpaduan berbagai teknologi pengendalian hama yang dapat menekan populasi hama sehingga tidak mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani. Menurut UU. No.12 Tahun 1992 penggunaan pestisida dalam sistem PHT merupakan alternatif terakhir. Tujuan utama PHT tidak hanya mengendalikan populasi hama tetapi juga meningkatkan produksi dan kualitas produksi serta meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani. Cara dan metode yang digunakan adalah dengan memadukan teknik-teknik pengendalian hama secara kompatibel serta tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.


Dalam pakteknya PHT lebih mengutamakan penggunaan musuh alami hama (predator, parasitoid, patogen hama, patogen pesaing, dll) daripada pestisida kimia. Dalam penerapannya di tingkat lapangan PHT sangat lentur, dinamis, tidak seragam serta disesuaikan dengan kondisi sistem masyarakat dan ekosistem lokal. Petani beserta kelompok taninya harus mampu secara mandiri melakukan semua daur kegiatan PHT sejak pemantauan, analisis ekosistem, pengambilan keputusan pengendalian serta pelaksanaan pengendalian. Konsep PHT tidak tergantung pada teknik pengendalian hama dan pengelolaan eksosistem tertentu tetapi PHT tergantung pada keberdayaan atau kemandirian petani dalam mengambil keputusan.


Perkembangan penerapan PHT melalui SLPHT (Sekolah Lapangan PHT) di negara-negara berkembang khususnya Indonesia memunculkan paradigma baru PHT yang oleh Waage (1996) dinamakan sebagai PHT Ekologi (ecological IPM). PHT Ekologi adalah penerapan PHT yang lebih menekankan pendekatan pemberdayaan, partisipatori petani dalam penyelesaian masalah khas lokasi. Paradigma PHT sebelumnya merupakan paradigma PHT klasik yang lebih menekankan pendekatan paket teknologi dalam penyelesaian masalah. Oleh karena itu PHT klasik disebut PHT Teknologi (technological IPM). Paradigma atau pendekatan baru PHT atau PHT Ekologi sekarang melalui Program FAO sudah dan sedang diterapkan hampir di semua negara berkembang di benua Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk semua komoditi pangan utama dunia. Pendekatan baru ini sangat sesuai dengan kondisi msayarakat tani di negara-negara berkembang yang masih memiliki banyak kendala dan keterbatasan termasuk kualitas SDM dan sumber dana. Dunia internasional telah mengakui bahwa SLPHT merupakan pendekatan pertanian berkelanjutan yang sangat sesuai bagi kondisi masyarakat negara-negara sedang berkembang.


BATASAN TEKNOLOGI NOVEL


Menurut Webster Dictionary dan beberapa kamus Bahasa Inggris lainnya yang dimaksud dengan “novel“ adalah baru, tidak biasa, aneh, dan hasil inovasi. Dengan demikian teknologi novel merupakan teknologi yang mempunyai beberapa sifat atau ciri berikut ini yaitu baru, belum pernah ada sebelumnya, berbeda dengan sebelumnya, tidak biasa, unik, hasil suatu inovasi atau penemuan baru, serta lebih menjanjikan daripada teknologi sebelumnya. Teknologi konvensional atau lama dan sudah umum digunakan tidak dapat disebut sebagai teknologi novel. Novelitas merupakan fungsi waktu serta bersifat relatif. Teknologi yang baru pertama kali diintroduksikan ke suatu wilayah dapat dikategorikan sebagai teknologi novel, tetapi apabila teknologi tersebut sudah menjadi milik “umum”, tidak dapat lagi disebut sebagai teknologi novel. Oleh karena itu perlu ditetapkan atau disepakati secara jelas tentang teknologi mana yang termasuk dalam kategori teknologi novel dan mana yang bukan teknologi novel.


Dilihat dari sisi teknologi dalam bidang perlindungan tanaman, PHT tidak dapat dikatakan sebagai teknologi novel karena beberapa komponen PHT sudah ada sebelumnya. Demikian juga teknik introduksi dan konservasi musuh alami pada suatu tempat tidak dapat dikatakan sebagai teknologi novel. Termasuk dalam teknologi novelkah penemuan varietas baru yang tahan hama dan penyakit tertentu dengan menggunakan teknik pemuliaan tanaman konvensional? Apabila seorang pakar menemukan alat perangkap hama dengan model yang berbeda dengan alat-alat perangkap yang lain, apakah alat tersebut juga dapat dikatakan sebagai teknologi novel?


Dengan semakin berkembangnya teknologi perlindungan tanaman saat ini banyak teknologi baru dalam bidang perlindungan tanaman yang muncul dan sudah dipasarkan, bahkan sudah ada yang digunakan oleh petani di Indonesia. Jenis teknologi baru perlindungan tanaman sangat beragam diantaranya teknologi deteksi hama dan penyakit tumbuhan, varietas tahan hama dan penyakit tumbuhan, teknologi pengendalian hama secara fisik, pestisida kelompok baru, teknik aplikasi bahan-bahan perlindungan tanaman dan lain-lainnya.


PRODUK-PRODUK TEKNOLOGI NOVEL PERLINDUNGAN TANAMAN


Banyak produk teknologi novel dalam bidang perlindungan tanaman yang telah berhasil ditemukan, dikembangkan, diproduksi dan dipasarkan di dunia setelah tahun 90-an. Beberapa kelompok produk teknologi novel dalam perlindungan tanaman akan diuraikan secara singkat berikut ini.

1. Produk Bioteknologi

Teknologi rekayasa genetika atau secara umum disebut bioteknologi modern merupakan teknologi novel yang populer saat ini. Bioteknologi tersebut mencakup rekombinasi DNA, pemindahan gen, manipulasi dan pemindahan embrio, kultur sel dan jaringan, regenerasi tanaman dan antibodi monoklonal. Hasil penelitian bioteknologi di bidang pertanian yang sudah dipasarkan dan dimanfaatkan adalah tanaman hasil rekayasa genetika atau tanaman transgenik. Tanaman transgenik memiliki sifat-sifat unggul yang merupakan ekspresi gen dari sumber-sumber gen organisme lain yang berhasil disisipkan pada tanaman tersebut. Tanaman transgenik yang sudah dihasilkan tidak hanya tanaman yang memiliki sifat ketahanan terhadap hama dan penyakit tetapi juga tanaman yang dapat menghasilkan nutrisi tertentu sesuai dengan komposisi yang dikehendaki. Hasil bioteknologi yang sudah dikembangkan dan digunakan dalam perlindungan tanaman antara lain:

a. Tanaman transgenik tahan hama

Pada umumnya telah disisipi dengan gen yang berasal dari banyak strain Bacillus thuringiensis yang ditujukan untuk mengendalikan jenis-jenis hama tertentu. Di pasar dunia telah dikenal kapas transgenik atau kapas Bt., jagung Bt., kentang Bt., kedelai Bt., tomat Bt, kanola Bt., dan lain-lainnya. Sampai saat ini kapas Bt. sudah diijinkan di Indonesia tetapi masih ditanam secara terbatas di Propinsi Sulawesi Selatan.

b. Tanaman transgenik tahan herbisida

beberapa jenis tanaman seperti kapas, jagung dan kedelai telah disisipi gen tertentu sehingga tanaman tersebut tidak mati apabila terpapar herbisida. Beberapa jenis tanaman telah disisipi dua gen sehingga tanaman tersebut tahan terhadap hama tertentu dan tahan terhadap herbisida.

c. Tanaman tahan terhadap penyakit

beberapa tanaman sepeti tomat, tembakau dan kentang berhasil disisipi gen yang menghasilkan protein pembungkus dari virus penyebab penyakit mozaik pada tembakau. Tanaman tahan terhadap penyakit virus dapat lebih meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit virus daripada penggunaan teknik yang biasa dilakukan.

d. Rekayasa genetika agensia pengendalian hama

Aplikasi bioteknologi dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat agensia pengendalian hayati termasuk peningkatan kemampuan membunuh inang/mangsa. Agensia pengendalian hayati berupa parasitoid, predator, maupun patogen hama (bakteri, virus, jamur, nematoda, protozoa). Saat ini para peneliti lebih menekankan pada kelompok bakteri dan virus darpada jamur, nematoda dan protozoa. Hal ini disebabkan genom bakteri dan virus lebih dikenal dan lebih mudah dimanipulasi daripada kelompok musuh alami lainnya (Waage, 1996). Treacy (1999) menguraikan tentang bagaimana meningkatkan kemampuan Baculovirus khususnya NPV untuk membunuh hama melalui teknik rekayasa genetika. Bioteknologi juga berpotensi untuk menyelesaikan masalah dalam pemeliharaan dan produksi massal musuh alami di laboratorium.

e. Pengembangan Biopestisida

Pengembangan dan penemuan jenis-jenis biopestisida baru yang lebih efektif dan efisien dapat dipercepat melalui pemanfaatan bioteknologi

f. Rekayasa genetika tanaman

Tumbuhan tertentu mempunyai sifat allelopati yang berfungsi melindungi tumbuhan tersebut dari pengaruh tumbuhan lain disekitarnya. Apabila sifat tersebut dapat dipindahkan ke tanaman lain maka akan diperoleh tanaman yang mampu mengendalikan gulma yang hidup disekitarnya.

g. Sebagai perangkat deteksi penyakit virus

Salah satu teknik bioteknologi yaitu pembuatan antibodi monoklonal yang dapat digunakan sebagai perangkat deteksi yang sangat tepat dan cepat terhadap serangga penular atau transmitter penyakit virus seperti Nephottetix virescens yang menularkan penyakit tungro pada padi. Melalui pemanfaatan teknologi antibodi monoklonal, random amplified polymorphin DNA (RAPD), polymerase chain reaction (PCR) dan metode bioteknologi lain maka pengelompokan organisme berdasarkan sifat-sifatnya dapat dilakukan lebih teliti sehingga membantu penerapan PHT di lapangan.

2. Kelompok Pestisida Baru

Beberapa kelompok pestisida kimia konvensional seperti golongan organoklorin, organofosfat, karbamat dan piretroid sintetik telah lama menguasai pasar pestisida dunia. Berbagai dampak negatif akibat penggunaan pestisida tersebut semakin menimbulkan keresahan dan kekhawatiran masyarakat luas. Pestisida kimia berbahaya bagi kesehatan manusia terutama yang bersifat kronik seperti karsinogenik, teratogenik, onkogenik, kerusakan hormon endokrin, selain itu berdampak juga terhadap lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati, sehingga mendorong para pakar dan dunia industri untuk segera menemukan pestisida novel yang berbeda sifat-sifat dan dampaknya dengan pestisida kimia lama.

Dorongan tersebut diperkuat oleh semakin ketat dan rumitnya mekanisme regulasi dan perijinan pendaftaran pestisida untuk golongan pestisida kimia yang lama. Kecenderungan ini semakin nyata di negara-negara industri maupun di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Semakin meningkatnya kemampuan hama menjadi resisten terhadap golongan-golongan pestisida lama, mendorong penemuan kelompok atau jenis pestisida yang mempunyai cara kerja yang berbeda.

Berbagai kelompok dan jenis pestisida baru yang sudah dipasarkan termasuk di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua menurut cara kerja atau “mode of action” nya yaitu:

1) melalui sistem syaraf serangga

2) melalui pengatur pertumbuhan serangga

Kelompok Pertama memiliki cara kerja melalui sistem syaraf tetapi berbeda dengan golongan insektisida konvensional sebelumnya seperti organofosfat, karbamat dan sintetik piretroid. Beberapa golongan insektisida baru yang termasuk dalam kelompok ini adalah avermectins, phenylpyrazoles, neo-nicotinoids, oxadiazines, dikhalopropenoxy aryl esthers, pymetrozine dan IKI-200 serta Spynosins (Amit et al., 2003).

Kelompok Kedua memiliki cara kerja tidak melalui sistem syaraf tetapi mempengaruhi proses pertumbuhan dan perilaku serangga sehingga lebih dikenal sebagai kelompok IGR (Insect Growth Regulator)/Senyawa Pengatur Pertumbuhan Serangga. Kelompok insektisida baru ini sering disebut Insektisida Generasi Ketiga atau Insektisida biorasional. Kelompok IGR terdiri atas 3 golongan yaitu:

a) Golongan tiruan hormon juvenil atau JH mimic seperti hidroprene, kinoprene, dan fenoxycarb

b) Golongan Penghalang sintesis khitin atau chitine synthesis inhibitor seperti diflubenzuron dan teflubenzuron

c) G olongan agonis ekdison atau ecdysone agonist seperti tebufenozide, methoxyfenozide dan halofenozide (Trisyono, 2002).

Beberapa jenis pestisida yang termasuk kelompok pertama dan kelompok kedua tersebut telah terdaftar dan diijinkan serta dipasarkan di Indonesia.

3. Formulasi Pestisida dan Teknik Aplikasi Baru

Penemuan jenis atau bahan aktif pestisida yang memiliki cara kerja baru juga diikuti dengan penemuan berbagai formulasi dan cara aplikasi pestisida baru yang berbeda dengan formulasi dan teknik aplikasi sebelumnya. Tujuan perbaikan formulasi dan teknik aplikasi adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas aplikasi insektisida termasuk untuk pengurangan dan penghematan penggunaan insektisida pada setiap aplikasi. Tujuan lainnya untuk mengurangi sebanyak mungkin paparan pekerja, masyarakat dan lingkungan terhadap pestisida sehingga mengurangi dampak samping bagi kesehatan dan lingkungan hidup. Suatu contoh formulasi pestisida baru berbahan aktif lambda cyhalotrin dari golongan sintetik piretroid yang dikembangkan oleh perusahaan Syngenta menggunakan teknologi zeon dengan formulasi CS (capsule suspension) (Simanjuntak et. al., 2003)

4. Bahan Pemantau Serangga

Jenis-jenis feromon dan bahan semiokimia lainnya untuk serangga-serangga tertentu telah banyak ditemukan dan dipasarkan. Feromon digunakan terutama untuk kepentingan pemantauan serangga hama, bahkan seringkali digunakan untuk pengendalian serangga hama. Di Amerika Serikat pada tahun 1997 telah terdaftar di EPA lebih dari 12 jenis feromon-sex yang diijinkan untuk pengendalian hama-hama penting (Thomson et al., 1999). Novak et al., (2001) telah mengembangkan perangkap lekat (sticky traps) yang diolesi dengan umpan yang mengandung 4-methoxycinnamaldehyde (MCA). Perangkap ini merupakan alat penduga populasi yang sangat baik untuk kumbang Diabrotica virgifera virgifera Le Come yang merupakan hama utama jagung di Amerika Serikat.


RISIKO TEKNOLOGI NOVEL


Memasuki era globalisasi perdagangan bebas dan keterbukaan informasi saat ini, introduksi dan perluasan penggunaan teknologi novel terutama dalam bidang perlindungan tanaman akan menjadi semakin intensif. Perluasan pemanfaatan teknologi novel perlu ditanggapi secara hati-hati dan bijaksana mengingat kondisi masyarakat tani di Indonesia masih memiliki banyak kendala, keterbatasan dan perbedaan keadaan ekosistem dengan ekosistem di negara-negara maju. Kita perlu melakukan pengkajian dan analisis ilmiah mengenai risiko teknologi novel bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup serta melakukan penilaian risiko manfaat teknologi baru tersebut. Dari hasil analisis risiko dapat diambil keputusan tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menolak atau menerima teknologi tersebut. Apabila menerima perlu ditetapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan guna mengurangi dan membatasi risiko yang terjadi sekecil mungkin.


Setiap jenis teknologi baik yang baru maupun yang lama apabila digunakan dan dilepaskan ke lingkungan tentu mengandung risiko yang membahayakan bagi manusia baik secara individu maupun kelompok masyarakat, serta berbahaya bagi lingkungan hidup lokal, nasional maupun global. Setelah berbagai jenis teknologi novel dipasarkan dan digunakan, kekhawatiran masyarakat global akan berbagai dampak dan risiko ini semakin meningkat sehingga berbagai reaksi dan tanggapan bermunculan. Kekhawatiran masyarakat saat ini lebih ditujukan pada masalah produksi, pelepasan dan penggunaan produk-produk bioteknologi termasuk tanaman transgenik.


Saat ini banyak masyarakat mempermasalahkan keamanan produk-produk transgenik dalam kaitannya dengan kesehatan manusia yang terpapar dan mengkonsumsi pangan hasil rekayasa genetika serta keamanan terhadap keberadaan dan pelestarian komponen-komponen ekosistem. Atas dasar prinsip kehati-hatian (precautionary principles), saat ini banyak negara di Eropa yang menolak impor dan pemasaran pangan hasil bioteknologi karena kekhawatiran mengenai risiko mengkonsumsi produk tersebut bagi kesehatan termasuk kemungkinan terjadi keracunan, alergi dan resistensi konsumen terhadap obat antibiotika dan lain-lainnya.


Risiko pelepasan tanaman transgenik ke lingkungan menjadi isu yang ramai dibicarakan antara pihak-pihak yang pro dan kontra. Menurut Myhr and Traavik (1999), beberapa risiko ekologis tanaman transgenik yang dikhawatirkan berupa a) potensi perpindahan gen ke tanaman kerabat, b) potensi perpindahan gen ke organisme lain bukan kerabat, c) pengaruh tanaman transgenik terhadap organisme bukan sasaran, d) pengurangan keanekaragaman hayati ekosistem dan e) perkembangan resistensi serangga terhadap tanaman transgenik. Indikasi risiko tanaman transgenik tersebut tidak dapat diremehkan dengan alasan data pendukung yang tersedia belum cukup.


Risiko penggunaan pestisida novel yang paling ditakuti oleh pemerintah, petani dan juga industri pestisida adalah timbulnya resistensi hama sasaran terhadap produk-produk teknologi novel adalah timbulnya resistensi hama terutama terhadap tanaman transgenik tahan hama/penyakit serta resisten terhadap jenis-jenis pestisida baru. Apabila petani dalam menggunakan produk teknologi novel/baru masih sama dengan sebelumnya seperti perlakuan tidak tepat , terus menerus , berlebihan dalam areal pertanaman yang luas, maka hama sasaran akan segera mampu berkembang menjadi populasi yang resisten. Bila hal ini terjadi semua pihak dirugikan termasuk industri pemilik HAKI jenis pestisida novel tersebut. Mereka telah mengeluarkan investasi yang sangat besar baik dalam bentuk dana, SDM, fasilitas dan waktu untuk menemukan produk teknologi novel. Apabila muncul resistensi maka investasi yang sedemikian besar tak dapat terbayar kembali. Oleh karena itu penggunaan pestisida novel harus dilakukan secara selektif serta lebih menerapkan strategi Pengelolaan Resistensi Serangga (Amit et al., 2003). Sedangkan untuk memperlambat munculnya resistensi hama terhadap tanaman transgenik tahan hama dan penyakit petani perlu menanam tanaman pengungsian (refuge) yang bukan tanaman transgenik dalam proporsi tertentu.


Penggunaan dan pemasyarakatan teknologi novel jangka panjang terutama berkaitan dengan risiko ekologi belum banyak diketahui dan diteliti sehingga keterkaitannya secara holistik dengan konsep pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan belum jelas.


TEKNOLOGI NOVEL DAN PHT


Seperti diuraikan sebelumnya, saat ini dikenal dua paradigma PHT yaitu PHT Teknologi dan PHT Ekologi. Di Indonesia kedua paradigma PHT ini dapat dilaksanakan secara bersamaan di lapangan (Untung, 2000). Penekanan PHT Teknologi terletak pada aspek teknologi pengendalian hama terutama melalui paket teknologi yang disusun dan direkomendasikan oleh petugas lapangan pemerintah, peneliti dan para petugas lapangan industri pestisida/benih. Teknologi novel lebih mudah dikenalkan dan dimasyarakatkan dengan menggunakan pola pendekatan teknologi. Teknologi novel dalam bidang perlindungan tanaman paling cocok diterapkan pada program PHT Teknologi. Program PHT tersebut dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah, swasta, universitas, atau atas inisiatif masyarakat.


Keterkaitan antara teknologi novel perlindungan tanaman dengan pendekatan PHT Ekologi cukup jauh. PHT Ekologi lebih menekankan pada keberdayaan petani dalam pengambilan keputusan pengelolaan ekosistem lokal, pemanfaatan sebanyak mungkin sumber daya alam lokal, penerapan riset partisipatori lokal, dan cenderung menghindarkan penggunaan teknologi eksternal seperti pestisida kimia. PHT Ekologi tidak mengenal paket teknologi tetapi lebih mengutamakan teknologi lokal untuk dikembangkan dan diterapkan sendiri oleh petani beserta kelompok taninya yang sebelumnya telah belajar bersama dalam kelompok SLPHT. Sejak tahun 1989 sampai 1998 sekitar satu juta petani padi/pangan di Indonesia yang telah mengikuti SLPHT Padi/Pangan. Dari tahun 1997 sampai tahun 2002 sekitar 41.000 petani perkebunan rakyat juga telah mengikuti SLPHT-Perkebunan Rakyat.


Kekurangserasian kaitan antara PHT Ekologi dan Teknologi Novel antara lain:

1. Teknologi pengendalian merupakan teknologi baru yang berasal dari luar lingkungan masyarakat lokal, sehingga kurang dapat dimengerti dan dikuasai.

2. Teknologi novel meningkatkan ketergantungan petani terhadap pihak-pihak luar termasuk peneliti, pemerintah dan industri perlindungan tanaman.

3. Petani dan kelompok tani akan terikat dengan peraturan perundang-undangan mengenai HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) perseorangan atau lembaga yang memiliki HAKI teknologi novel serta harus meninggalkan berbagai kebiasaan/adat yang biasa mereka lakukan.

4. Produk-produk dan hasil teknologi novel dalam perlindungan tanaman umumnya sangat mahal sehingga sulit dijangkau ol eh para petani kecil karena di luar rata-rata kemampuan ekonomi petani di pedesaan.

5. Penerapan teknologi novel di lapangan sangat memerlukan pengetahuan dan ketrampilan khusus termasuk dalam penerapan IRM (Insecticide Resistance Management) serta penanaman tanaman refuge dalam proporsi tertentu yang sulit dimengerti oleh petani dan kelompoknya.

Namun secara prinsip baik untuk pendekatan PHT Teknologi dan PHT Ekologi tidak mendorong dan menganjurkan pada para petani untuk mengutamakan dan menggantungkan sepenuhnya upaya perlindungan tanaman pada teknologi novel.


KESIMPULAN


  1. Batasan teknologi novel perlu diperjelas serta berlaku untuk semua jenis atau kelompok teknologi dalam bidang pembangunan pertanian pada umumnya dan perlindungan tanaman pada khususnya.Â
  2. Banyak jenis dan kelompok teknologi novel dalam bidang perlindungan tanaman telah diproduksi dan dipasarkan oleh industri multinasional yang telah menginvestasikan dana yang sangat besar untuk menemukan teknologi novel tersebut.Â
  3. Teknologi novel bidang perlindungan tanaman terutama dari hasil bioteknologi dan pengembangan pestisida golongan baru memiliki cara kerja yang unik dan berbeda dengan teknologi sebelumnya.Â
  4. Hasil penggunaan teknologi novel di Indonesia perlu dimonitor dan dievaluasi secara obyektif agar dapat diketahui manfaat dan bahayanya.Â
  5. Sebelum suatu jenis teknologi novel diputuskan untuk dilepas dan digunakan harus melalui analisis dan penilaian risiko yang komprehensif dan ilmiah terutama mengenai dampak teknologi tersebut terhadap sistem sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat.Â
  6. Teknologi novel perlindungan tanaman akan mudah dipadukan dengan teknologi pengendalian hama lainnya melalui paradigma PHT Teknologi. Secara konseptual keterkaitan teknologi novel dengan paradigma PHT Ekologi dan SLPHT menghadapi beberapa permasalahan mendasar.Â
  7. Pemerintah perlu mempunyai kebijakan khusus terhadap pemasukan, produksi, pemasaran dan penggunaan teknologi novel perlindungan tanaman agar manfaat dapat diperoleh sebanyak mungkin dan risiko bahaya dapat ditekan sampai sekecil mungkin.

DAFTAR PUSTAKA


  • Amit. S, V. Patil, T. C. Sparks, S. Gerilyanto and D. Sunindyo. 2003. New Insect Control Agents. Choices, Selectivity and Insect Resistance Management Strategies. Kongres VI Perhimpunan Entomologi Indonesia dan Simposium Entomologi. Cipayung, 5-7 Maret 2003.
  • M. F. Treacy. 1999. Recombinant Baculovirus. In F. R Hall and J. J Menn (Eds.). Methods in Biotechnology. Biopesticides: Use and Delivery. Vol: 5 p. 321-340 Humana Press Inc. Totowa.
  • Myhr, A. I. and T. Traavik, 1999. The Precautionary Principle Applied to Deliberate Release of Genetically Modified Organisms (GMOs). Microbial Ecology in Health and Disease. Vol 11: 65-74.
  • R. L. Noval, R. L. Lampman and H. E. Hummel, 2001. Innovative Pest Management on Corn rootworm: The Use of Kairomon-Inpregnated Baits. In M. S. Mulla (Edit.). Proceedings 2nd International Conference in Biopesticide.
  • Simanjuntak K. P, A. Triwiyono dan Sugiarman. 2003. MATADOR dengan Teknologi Zeon dan Penyebarannya di Indonesia. Kongres VI Perhimpunan Entomologi Indonesia dan Simposium Entomologi. Cipayung, 5-7 Maret 2003.
  • Thomson,D. R., L. J. Gut, and J. W. Jenkins 1999. Pheromones for Insect Control. Strategies and Successes. In F. R Hall and J. J Menn (Eds.). Methods in Biotechnology. Biopesticides: Use and Delivery. Vol. 5 p.385-412. Humana Press Inc. Totowa.
  • Trisyono, Y. A. 2002. Ecdysone agonist: New Insecticides with Novel Mode of Action. J. Perlindungan Tanaman Indonesia. Vol. 8(2): 75-85.
  • Untung, K. 2000. Institutional of Integrated Pest Management Concept in Indonesia. Indonesian Journal of Plant Protection. Vol. 6(1): 1-8
  • Waage, J. 1996. Integrated Pest Management and Biotechnology: An Analysis of Their Potential for Integration, P. 37-60. In Persley, G.J. (ed.), Biotechnology and Integrated Pest Management. CAB International Cambridge.

[1] Makalah disampaikan dalam Simposium Nasional Perlindungan Tanaman Indonesia di Yogyakarta, 10 Maret 2003

[2] Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ketua I Komisi Perlindungan Tanaman Departemen Pertanian, Anggota Komisi Pestisida dan Ketua Tim Pakar Evaluasi Pestisida Dept. Pertanian, Konsultan PHT Nasional.

(Sumber: http://kasumbogo.staff.ugm.ac.id)

Related Posts by Categories



6 comments:

ethie February 17, 2008 at 10:28 AM  

Blognyah sudah saiyah link.. Dengan nama Antoh blogh.. :p

Nengah Putri June 20, 2010 at 7:31 PM  

Informasi tentang pengendalian hama terpadu sangat membantu saya. tapi akan lebih baik jika dilengkapi dengan gambar-gambar. Terima KasihZ^_^

maeniwati rachmah June 21, 2010 at 11:16 AM  

Artikel tentang contoh pembuatan makalah sangat lengkap semoga bermanfaat untuk ke depannya.

susanti June 21, 2010 at 6:43 PM  

terimakasih tentang ilmu yang telah anda tulis ini. semoga bermanfaat.

busyairi June 21, 2010 at 7:00 PM  

sangat baik,dengan adanya PHT maka sistem pertanian akan terus berkelanjutan.karena tideak berdampak buruuk terhadap lingkungan.

Post a Comment